SKT dan SKA di Paket Kecil Konstruksi

Salah satu penyakit kronis yang sedang menghampiri pengadaan barang/jasa adalah tumpuan mesra didasari suudzon menemani pelakunya. Kalau berbicara perjanjian antara pengguna dan penyedia. Ibarat ijab kabul kedua mempelai mengadakan pernikahan dengan lingkungan saling sangsi. Maka siap dibayangkan famili yang mau terjadi: D. Lha sekiranya bicara nikah hehehe..



Salah satu yang selalu menjadi topik “pertengkaran” diartikan sebagai dipersyaratkannya SKA dan SKT dalam tingkah laku konstruksi. SKA adalah Sertifikat Keahlian Komitmen, dengan keyword “ahli”. Adapun SKT didefinisikan sebagai Sertifikat Kinerja Kerja pada kata kunci “Terampil”. Masing-masing pihak baik pengguna dan penyedia suudzon-nya luar biasa.

Penyedia menilai PPK mempersyaratkan SKA dan SKT serupa salah satu cara untuk menuntaskan paket bagi penyedia unik. Apesnya pokja yang terantuk getahnya. Di setiap teknik diskusi dengan teman-teman penyedia selalu saja pokja yang dipersalahkan olehkarena itu mempersyaratkan jasa pengurusan ska yang cenderung berlebihan. Sedangkan ini tanggungjawab PPK.

PPK juga sejajar perwakilan pengguna beralasan jika penyedia rutin hanya pinjam meminjam usaha yang mengarungi SKA/SKT. Jadi jika mempersyaratkan personil yang ber-SKA/SKT yang minimal dengan berdampak saat pekerjaan.

Sedangkan dalam sudah barang tentu dugaan-dugaan serupa ini benar memilikinya, namun pantas kita pahami bersama, tanda ini mesti kita perangi bersama. Keadaan ini tidak sehat bagi reaksi pengadaan barang/jasa kita.

PPK sebagai penanggungjawab pelaksanaan telatah dalam menyusun spesifikasi harus menetapkan hajat kualitas dan kuantitas personil sesuai secara kompleksitas pekerjaan.

Pokja guna pelaksana penunjukan, dimana dalam dokumen pemilihan salah satu komponen utamanya diartikan sebagai spesifikasi personil inti yang ditetapkan PPK, juga tentu melakukan riset ulang. Di dalam kaji ulang pokja mesti mengingatkan PPK agar untuk menetapkan taraf dan pembawaan personil setara dengan kepelikan pekerjaan.

Penyedia juga sebagai partner pengasuh harus terus mengupgrade kompetensinya. Dengan meninggalkan rekrutmen ataupun pembinaan pembawaan SDM yang dimiliki, agar dalam menunaikan pekerjaan gak hanya mengejar profit namun, juga mengintensifkan profesionalisme. Kepemilikan tenaga yang bersertifikat indah disisi keahlian dan/atau saksi adalah wujud profesionalisme penyedia.

Kembali menurut pertanyaan terpesona batasan kuantitas dan poin personil kunci yang mengarungi SKA dan/atau SKT dalam satu Paket pekerjaan pengertian. Pada intinya adalah disesuaikan dengan keruwetan pekerjaan.

Bagi paket-paket yang bersifat tonggak dimana keruwetan pekerjaan semuanya ditentukan per nilai provisional unsur lainnya cateris paribus atau berwatak sama/tetap. Saya dapat melihat pada pengertian yang dipergunakan Permen PU 8/2011, tentang Pembagian Subklasifikasi dan Subkualifikasi Usaha Usaha Konstruksi lampiran 3 Komptetensi Usaha Pelaksana Konstruksi, di dalam menentukan subkualifikasi berdasarkan tenaga penyedia pelatih konstruksi.

Daripada sini sanggup dilihat jika secara taraf dan markah SKA/SKT tiada pembatasan. Namun dari bingkai batas atas nilai Paket dapat disimpulkan bahwa untuk kualifikasi jual beli kecil (K) dengan peringkat paket tingkatan s/d 2, 5 Milyar, standar minimalnya adalah Penanggungjawab Teknik 1 orang yang memiliki SKT. Untuk tingkatan disesuaikan menggunakan grade peringkat paket. SKA baru disyaratkan apabila siap pekerjaan elektrikal yang betul2 memerlukan keahlian.

Sedangkan SKA non elektrikal baru dipersyaratkan untuk Paket dengan prestise diatas 2, 5 Milyar atau Paket usaha non kecil. Serta pemilik SKA harus tersekat dengan Pemilik badan usaha. Dengan kata lain direktur perusahaan tidak dapat menjadi usaha ahli sekali lalu untuk Paket usaha non kecil.

Demikian sekedar perenungan, silakan didiskusikan lebih sisi.

Write a comment

Comments: 29